KOTA BUKITTINGGI
Selasa, 20 Juli 2010
IKLIM DAN GEOGRAFIS
Pada umumnya di Kota Bukittinggi turun hujan, rata-rata 2,381 milimeter per tahun dengan jumlah hujan rata-rata 193 hari pertahun dan kelembaban hawa berkisar antara minimum 82,0 % - 90,8 % max. Oleh karena itu daerah ini beriklim sedang, berhawa sejuk dengan suhu udara 17-24o C.
Label:
Bukittinggi,
liburan,
pariwisata,
Tour,
Travel,
wisata
Senin, 19 Juli 2010
SEJARAH KOTA BUKITTINGGI
Dalam perspektif sejarah pemungkiman masyarakat Minangkabau Asli, kota Bukittinggi bermula dari suatu perkampungan awal ( Koto Jolong, pusat pertumbuhan awal ) yang berada di Jorong Tigo Baleh. Daerah ini merupakan daerah awalintis yang berasal dari Pariangan, padang Panjang yang kemudian berkembang menjadi nagari, yaitu Nagari Kurai. Pada tahapan berikutnya terbentuk struktur ruang yang terdiri dari Lima Jorong, menunjukan kepada beberapa elemen ruang yang menjadi sebuah nagari, seperi pemukiman penduduk, mesjid, balai adapt dan pasar. Elemen-elemen ini dalam perkembangannya secara tidak lansung ikut membentuak ruang NAgari Kurai Limo Jorong, dimana masing-masing jorong dilihat dari perkembangan sosisal budayanya dapat disetarkan dengan Ngarai di Wilayah lain di luar Kota Bukittinggi.
Walaupun sampai saat ini Bukittinggi telah menjadi kawasan urban namun secara budaya masyarakat Bukittinggi tetap memagang teguh adat-istiadat yang dapat dilihat dari kehidupan sehar-hari dimana prinsip utama masyarakat Minangkabau “ Adat Basandi Syara’, Syara’ basandi Kitabullah “ sangat menonjol. Kaitan budaya dan agama dapat juga dilihat dari ungkapan : Syara’ mangato adaik mamakai “.
Hal tersebut terlihat dari banyak dan semaraknya kegiatan yang berbau keagamaan dan sudah mengental dalam bentuk kegiatan budaya seperti Khatam Qur’an dan perayaan hari besar Islam. Saat ini dengan adannya gerakan kembali ke nagari maka kehiduypan social budaya masyarakat yang berlandaskan agama akan semakin kuat.
Padazaman perjuagan kemerdekaan RI Bukittinggi perperan penting sebagai kota perjuangan. Dari Bulan Desember 1948 sampai dengan Bulan Juni 1949 Bukittinggi ditunjuk sebagai ibukota Republik Indonesia setelah Yokyakarta jatuh ketangan Belanda. Kemudian dalam peraturan Pemerintah penganti UU No. 4 tahun 1950 Bukittinggi ditetapkan sebagai ibukota Propinsi Sumatera Tengah yang meliputi keresidenan Sumatera Barat, Jambi dan Riau.
Walaupun sampai saat ini Bukittinggi telah menjadi kawasan urban namun secara budaya masyarakat Bukittinggi tetap memagang teguh adat-istiadat yang dapat dilihat dari kehidupan sehar-hari dimana prinsip utama masyarakat Minangkabau “ Adat Basandi Syara’, Syara’ basandi Kitabullah “ sangat menonjol. Kaitan budaya dan agama dapat juga dilihat dari ungkapan : Syara’ mangato adaik mamakai “.
Hal tersebut terlihat dari banyak dan semaraknya kegiatan yang berbau keagamaan dan sudah mengental dalam bentuk kegiatan budaya seperti Khatam Qur’an dan perayaan hari besar Islam. Saat ini dengan adannya gerakan kembali ke nagari maka kehiduypan social budaya masyarakat yang berlandaskan agama akan semakin kuat.
Padazaman perjuagan kemerdekaan RI Bukittinggi perperan penting sebagai kota perjuangan. Dari Bulan Desember 1948 sampai dengan Bulan Juni 1949 Bukittinggi ditunjuk sebagai ibukota Republik Indonesia setelah Yokyakarta jatuh ketangan Belanda. Kemudian dalam peraturan Pemerintah penganti UU No. 4 tahun 1950 Bukittinggi ditetapkan sebagai ibukota Propinsi Sumatera Tengah yang meliputi keresidenan Sumatera Barat, Jambi dan Riau.
Label:
Bukittinggi,
liburan,
pariwisata,
Tour,
Travel,
wisata
Kamis, 15 Juli 2010
KOTA BUKITTINGGI
Kota Bukittinggi adalah salah satu kota di Provinsi Sumatera Barat yang merupakan bagian dari bekas kerajaan Minangkabau yang terkenal dengan sebutan Ranah Minang. Masyrakatnya terkenal dengan tata kehidupan yang mengunakan Sistem Matrilineal dengan adapt istiadatnya yang unik dan berbeda dengan daerah lain di dunia seperti system pembagian harta pusaka, gelar dan nama suku, diturunkan menurut silsilah keturunan ibu.
Mayoritas penduduk Bukittinggi adalah pemeluk agama Islam yang taat dan pemegang adapt yang kuat. Karakter masyarakatnya yang mandiri, dinamis, kritis dan unggul dalam mengembangkan kewirausahaan. Kaedah-kaedah agama dan adat terpadu secara serasi di dalam tata kehidupan.
Mayoritas penduduk Bukittinggi adalah pemeluk agama Islam yang taat dan pemegang adapt yang kuat. Karakter masyarakatnya yang mandiri, dinamis, kritis dan unggul dalam mengembangkan kewirausahaan. Kaedah-kaedah agama dan adat terpadu secara serasi di dalam tata kehidupan.
Langganan:
Postingan (Atom)