Dalam perspektif sejarah pemungkiman masyarakat Minangkabau Asli, kota Bukittinggi bermula dari suatu perkampungan awal ( Koto Jolong, pusat pertumbuhan awal ) yang berada di Jorong Tigo Baleh. Daerah ini merupakan daerah awalintis yang berasal dari Pariangan, padang Panjang yang kemudian berkembang menjadi nagari, yaitu Nagari Kurai. Pada tahapan berikutnya terbentuk struktur ruang yang terdiri dari Lima Jorong, menunjukan kepada beberapa elemen ruang yang menjadi sebuah nagari, seperi pemukiman penduduk, mesjid, balai adapt dan pasar. Elemen-elemen ini dalam perkembangannya secara tidak lansung ikut membentuak ruang NAgari Kurai Limo Jorong, dimana masing-masing jorong dilihat dari perkembangan sosisal budayanya dapat disetarkan dengan Ngarai di Wilayah lain di luar Kota Bukittinggi.
Walaupun sampai saat ini Bukittinggi telah menjadi kawasan urban namun secara budaya masyarakat Bukittinggi tetap memagang teguh adat-istiadat yang dapat dilihat dari kehidupan sehar-hari dimana prinsip utama masyarakat Minangkabau “ Adat Basandi Syara’, Syara’ basandi Kitabullah “ sangat menonjol. Kaitan budaya dan agama dapat juga dilihat dari ungkapan : Syara’ mangato adaik mamakai “.
Hal tersebut terlihat dari banyak dan semaraknya kegiatan yang berbau keagamaan dan sudah mengental dalam bentuk kegiatan budaya seperti Khatam Qur’an dan perayaan hari besar Islam. Saat ini dengan adannya gerakan kembali ke nagari maka kehiduypan social budaya masyarakat yang berlandaskan agama akan semakin kuat.
Padazaman perjuagan kemerdekaan RI Bukittinggi perperan penting sebagai kota perjuangan. Dari Bulan Desember 1948 sampai dengan Bulan Juni 1949 Bukittinggi ditunjuk sebagai ibukota Republik Indonesia setelah Yokyakarta jatuh ketangan Belanda. Kemudian dalam peraturan Pemerintah penganti UU No. 4 tahun 1950 Bukittinggi ditetapkan sebagai ibukota Propinsi Sumatera Tengah yang meliputi keresidenan Sumatera Barat, Jambi dan Riau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar